SIIProv Babel

 DATA PERUSAHAAN INDUSTRI PROVINSI





Industri besar adalah jenis industri yang memiliki skala produksi yang besar, menggunakan teknologi modern, dan melibatkan modal yang besar. Industri besar biasanya menghasilkan produk dalam jumlah besar dan mendistribusikannya ke pasar yang luas. Contoh industri besar antara lain industri otomotif, industri tekstil, industri makanan dan minuman, serta industri kimia.

Ciri-ciri Industri Besar

 * Skala Produksi Besar: Industri besar memiliki kapasitas produksi yang besar dan menghasilkan produk dalam jumlah yang sangat banyak. Hal ini memungkinkan mereka untuk mencapai efisiensi biaya dan memenuhi permintaan pasar yang besar.

 * Penggunaan Teknologi Modern: Industri besar umumnya menggunakan teknologi modern dan canggih dalam proses produksinya. Teknologi ini membantu meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan kualitas produk.

 * Modal Besar: Industri besar membutuhkan investasi modal yang besar untuk membangun pabrik, membeli peralatan, dan mengembangkan teknologi. Modal ini juga digunakan untuk biaya operasional dan pemasaran.

 * Tenaga Kerja Terampil: Industri besar membutuhkan tenaga kerja yang terampil dan terlatih untuk mengoperasikan teknologi modern dan menjalankan proses produksi yang kompleks.

 * Distribusi Luas: Produk yang dihasilkan oleh industri besar biasanya didistribusikan ke pasar yang luas, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Jaringan distribusi yang efisien sangat penting bagi keberhasilan industri besar.

Keuntungan Industri Besar

 * Efisiensi Biaya: Skala produksi yang besar memungkinkan industri besar untuk mencapai efisiensi biaya. Biaya produksi per unit produk menjadi lebih rendah karena biaya tetap dapat dibagi dengan jumlah produksi yang besar.

 * Inovasi: Industri besar memiliki sumber daya yang cukup untuk melakukan penelitian dan pengembangan (litbang). Hal ini memungkinkan mereka untuk terus berinovasi dan menghasilkan produk-produk baru yang lebih baik.

 * Kualitas Produk: Industri besar umumnya memiliki standar kualitas yang tinggi dan menggunakan teknologi modern untuk memastikan kualitas produk yang konsisten.

 * Penciptaan Lapangan Kerja: Industri besar menyerap banyak tenaga kerja, baik tenaga kerja langsung maupun tidak langsung. Hal ini berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi.

Tantangan Industri Besar

 * Persaingan Ketat: Industri besar seringkali menghadapi persaingan yang ketat dari perusahaan lain, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

 * Perubahan Teknologi: Industri besar harus terus beradaptasi dengan perubahan teknologi yang cepat. Jika tidak, mereka bisa tertinggal dari pesaing.

 * Tanggung Jawab Sosial: Industri besar memiliki tanggung jawab sosial yang besar terhadap masyarakat dan lingkungan. Mereka harus memastikan bahwa kegiatan operasional mereka tidak merusak lingkungan dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Peran Industri Besar dalam Perekonomian

Industri besar memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian suatu negara. Mereka berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, dan pengembangan teknologi. Selain itu, industri besar juga berperan dalam meningkatkan daya saing bangsa di pasar global.

Kesimpulan

Industri besar adalah bagian penting dari perekonomian modern. Mereka memiliki potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, industri besar juga menghadapi tantangan yang kompleks dan harus terus beradaptasi agar tetap kompetitif dan berkelanjutan.

1. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Januari 2026, terdapat 138 perusahaan industri berskala besar dan sedang yang beroperasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Berikut adalah rincian sektor industri utama yang mendominasi wilayah tersebut:

Sektor Industri Utama

Kategori Industri (KBLI)Jumlah Perusahaan
Industri Makanan (Pengolahan CPO, Ikan, dll.)56
Industri Logam Dasar (Peleburan Timah)22
Industri Barang Galian Bukan Logam22
Reparasi & Pemasangan Mesin7
Industri Karet & Plastik4

Perusahaan Besar yang Beroperasi

  • Pertambangan & Logam: PT TIMAH Tbk, PT Arsari Tambang (PT Mitra Stania Kemingking, PT Mitra Stania Bemban), dan PT Belitung Industri Sejahtera.

  • Pengolahan Sawit (CPO): PT Tata Hamparan Eka Persada (THEP).

  • Manufaktur Baru: Pabrik Plywood Sengon (diresmikan akhir 2025) dan PT Solder Tin Andalan Indonesia (smelter solder ramah lingkungan)

Data perizinan berusaha industri di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat ini terintegrasi melalui sistem OSS RBA (Online Single Submission Risk-Based Approach) dan SIINas (Sistem Informasi Industri Nasional).
​Berdasarkan data terbaru (2025/2026):
​Jumlah Perusahaan: Terdapat sekitar 138 industri besar dan sedang (dominasi industri makanan, logam dasar, dan barang galian bukan logam) serta lebih dari 17.138 industri mikro dan kecil.
​Mekanisme Perizinan: Pelaku usaha wajib memiliki akun SIINas untuk proses verifikasi teknis (Vertek) yang kemudian tersambung dengan OSS RBA untuk penerbitan NIB (Nomor Induk Berusaha) dan Sertifikat Standar/Izin sesuai tingkat risiko.
​Akses Data: Publik dapat memantau profil data melalui portal resmi OSS atau layanan bank data di situs DPMPTSP Bangka Belitung.

Gambaran integrasi OSS RBA dan SIINas di Kepulauan Bangka Belitung sangat akurat, terutama mengenai peran penting SIINas sebagai "jembatan" verifikasi teknis bagi industri menengah dan besar.

​Mengingat dominasi industri logam dasar (seperti pemurnian timah) dan industri makanan di Babel, kepatuhan terhadap pelaporan berkala di SIINas menjadi krusial agar NIB tetap berlaku efektif dan tidak terkena sanksi administratif.

​Langkah Teknis Pendaftaran Akun SIINas

​Untuk membantu para pelaku usaha di Bangka Belitung, berikut adalah alur ringkas pendaftaran akun SIINas:

​Validasi NIB: Pastikan perusahaan sudah memiliki NIB (Nomor Induk Berusaha) dari sistem OSS RBA dengan KBLI (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia) kategori Industri (awalan angka 10-33).

​Registrasi di Portal SIINas: Akses laman siinas.kemenperin.go.id.

​Input Data Perusahaan: Masukkan nomor NIB. Sistem biasanya akan menarik data secara otomatis dari OSS (Sincronisasi Data).

​Unggah Dokumen Pendukung: * Scan Izin Usaha/NIB.

​Scan identitas penanggung jawab perusahaan.

​Foto sarana produksi (untuk memastikan industri benar-benar ada/eksis).

​Verifikasi: Pihak Kemenperin akan melakukan verifikasi data. Jika disetujui, username dan password akan dikirimkan ke email terdaftar.

​Catatan Penting: Bagi industri di Bangka Belitung, akun SIINas wajib digunakan untuk melaporkan Laporan Tahunan dan Laporan Semesteran (Data Industri). Kelalaian dalam pelaporan ini dapat menghambat proses ekspor atau pengurusan sertifikasi halal/TKDN.




2.
Standar kegiatan usaha industri di Bangka Belitung saat ini mengacu pada sistem OSS RBA (Perizinan Berusaha Berbasis Risiko) dan regulasi daerah terbaru.
​Ketentuan Utama
​Perizinan Berusaha: Wajib memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dan Sertifikat Standar melalui platform OSS.go.id.

​Kategorisasi Risiko:
​Rendah: Cukup NIB.
​Menengah: NIB + Sertifikat Standar (pernyataan pemenuhan standar).
​Tinggi: NIB + Izin (memerlukan verifikasi teknis/AMDAL).

​Lapor SIINas: Pelaku usaha industri diwajibkan memiliki akun dan melapor berkala melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas).

​Standar Lokasi: Kegiatan industri harus berada di Kawasan Peruntukan Industri (KPI) sesuai RTRW Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

​Fokus Sektor Unggulan
​Pemerintah daerah memberikan standar khusus untuk hilirisasi komoditas lokal, meliputi:
​Pengolahan Timah: Standar teknis smelter dan lingkungan yang ketat.
​CPO & Turunan Sawit: Wajib memenuhi standar limbah industri.
​Pengolahan Hasil Laut: Standar sanitasi dan higienitas ekspor.
​Lada (Muntok White Pepper): Standar mutu geografis.

​Aspek Ketenagakerjaan (2026)
​Upah Minimum: Standar upah minimum (UMP/UMK) tahun 2026 ditetapkan sebesar Rp4.035.000

Berdasarkan sistem Online Single Submission Risk-Based Approach (OSS-RBA) dan regulasi terbaru (PP No. 5/2021), persyaratan standar kegiatan usaha di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Klasifikasi Berdasarkan Tingkat Risiko

Tingkat RisikoPerizinan BerusahaKetentuan Utama
RendahNIBBerlaku sebagai identitas, legalitas, dan SNI/Jaminan Halal (untuk UMK tertentu).
Menengah RendahNIB + Sertifikat StandarSertifikat berupa pernyataan mandiri (self-declaration) di sistem OSS.
Menengah TinggiNIB + Sertifikat StandarSertifikat wajib diverifikasi oleh Pemprov/Pemkab sebelum beroperasi.
TinggiNIB + IzinMemerlukan persetujuan teknis dan verifikasi lapangan yang ketat

2. Klasifikasi Skala Usaha (Modal Bersih)

  • Mikro: Modal ≤ Rp1 Miliar.

  • Kecil: Modal > Rp1 Miliar – Rp5 Miliar.

  • Menengah: Modal > Rp5 Miliar – Rp10 Miliar.

  • Besar: Modal > Rp10 Miliar. (Nilai modal tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha).


3. Persyaratan Dasar (Wajib Semua Skala)

  • KKPR: Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (dahulu Izin Lokasi).

  • Persetujuan Lingkungan: SPPL (Rendah), UKL-UPL (Menengah), atau AMDAL (Tinggi).

  • Persetujuan Bangunan Gedung (PBG): Pengganti IMB.

 

Catatan Penting: Khusus sektor industri di Bangka Belitung (seperti pengolahan timah atau perkebunan sawit), pelaku usaha wajib melapor secara berkala melalui SIINas (Sistem Informasi Industri Nasional)

Poin mengenai SIINas juga sangat krusial, terutama untuk wilayah Bangka Belitung yang didominasi oleh komoditas strategis. Tanpa pelaporan rutin di SIINas, pelaku usaha industri seringkali terkendala saat ingin melakukan pembaruan data di sistem OSS atau saat pengurusan izin ekspor-impor.


Mengapa Kode KBLI Itu Penting?

Meskipun persyaratan dasar (KKPR, PBG, Lingkungan) berlaku umum, setiap kode KBLI (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia) memiliki "nasib" yang berbeda dalam hal:

  • Tingkat Risiko: Apakah usaha Anda masuk kategori Rendah, Menengah Rendah, Menengah Tinggi, atau Tinggi?

  • Kewajiban Perizinan Berusaha: Apakah cukup NIB saja, atau butuh Sertifikat Standar yang terverifikasi dan Izin tambahan?

  • Persyaratan Teknis Khusus: Misalnya, untuk pengolahan timah, mungkin ada standar teknologi pemurnian tertentu atau kuota ekspor.



3.

Realisasi investasi di sektor industri Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan pertumbuhan signifikan yang didominasi oleh hilirisasi tambang dan pengolahan kelapa sawit.

​Berdasarkan data terbaru hingga 2025, berikut rincian nilai investasinya:

​Total Realisasi Investasi (Januari–September 2025): Mencapai Rp9,36 triliun, dengan porsi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar 79,64%.

​Sektor Industri Logam Dasar: Menyumbang Rp1,18 triliun, terutama didorong oleh smelter timah (termasuk rencana pembangunan smelter baru senilai Rp2 triliun di Bangka Tengah).

​Industri Makanan (CPO): Merealisasikan investasi sebesar Rp1,05 triliun.

​Proyek Strategis (2025–2026): Pemerintah sedang mengupayakan investasi besar senilai Rp16 triliun untuk pabrik kelapa sawit terintegrasi dan Rp30 triliun untuk pengolahan limbah timah bersama investor Tiongkok.

​Sebagai perbandingan, pada tahun 2024, total investasi menyentuh Rp17 triliun, di mana industri logam dasar berkontribusi sebesar Rp2,06 triliun.


Berdasarkan data operasional dan realisasi investasi terbaru hingga awal 2025, berikut adalah daftar perusahaan industri besar di Kepulauan Bangka Belitung yang menjadi pilar utama pertumbuhan tersebut:

1. Sektor Industri Logam Dasar & Hilirisasi Tambah

Sektor ini tetap menjadi "tulang punggung" dengan dominasi smelter timah dan mineral ikutan.

  • PT Timah Tbk: BUMN yang menjadi pemain utama dengan wilayah operasional terluas. Saat ini mereka juga mengelola beberapa smelter hasil sitaan negara untuk menjaga stabilitas produksi.

  • PT Tong Fang (Investor Tiongkok): Perusahaan yang baru saja berkomitmen membangun smelter timah terbesar di Bangka Tengah senilai Rp2 triliun. Fokusnya adalah produk hilir seperti timah solder dan kawat timah.

  • PT Green Indonesia Alumina (GIA): Sedang membangun smelter alumina di Kawasan Industri Suge, Belitung dengan nilai investasi fantastis Rp28 triliun (pengolahan bauksit menjadi alumina).

  • PT Bersahaja Berkat Sahabat Jaya: Mengoperasikan smelter titanium pertama di Indonesia yang berlokasi di Kabupaten Bangka (investasi PMDN).

  • PT Mitra Stania Prima (MSP): Salah satu smelter swasta terbesar di Sungailiat yang produknya (timah ingot) sudah terdaftar di bursa London (LME).

2. Sektor Industri Makanan (Pengolahan Sawit/CPO)

Hilirisasi sawit di Babel semakin kuat dengan hadirnya pabrik-pabrik pengolahan yang tidak hanya memproduksi CPO, tapi juga minyak goreng.

  • PT Steelindo Wahana Perkasa (SWP): Berlokasi di Kelapa Kampit, Belitung Timur. Merupakan salah satu produsen minyak sawit dan minyak goreng terbesar yang memasok kebutuhan lokal.

  • PT Sawindo Kencana: Pemain besar di sektor perkebunan dan pengolahan sawit yang berbasis di Bangka Barat.

  • PT Bumi Permai Lestari & PT Tata Hamparan Eka Persada: Dua perusahaan besar di bawah grup multinasional yang fokus pada keberlanjutan (RSPO/ISPO).

  • PT Dhibi: Baru-baru ini (pertengahan 2025) mulai membangun pabrik CPO baru di Simpang Pesak, Belitung Timur.

3. Sektor Industri Pangan & Lainnya

  • PT Langit Bumi Lestari: Memproduksi tepung tapioka (singkong) bermerek Gunung Pelawan di Pangkalpinang dengan kapasitas mencapai 6.000 ton per bulan.


Ringkasan Strategis

Nama PerusahaanLokasi UtamaKomoditas UtamaStatus/Catatan 2025
PT Timah TbkSeluruh BabelTimahKonsolidasi aset & efisiensi
PT Tong FangBangka TengahSolder & Kawat TimahInvestasi Baru Rp2 Triliun
PT GIABelitung (Suge)AluminaInvestasi Strategis Rp28 T
PT SWPBelitung TimurCPO & Minyak GorengPilar Ketahanan Pangan

 4.

Berdasarkan data terbaru, sektor industri di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung didominasi oleh pengolahan sumber daya alam. Berikut adalah rincian satuannya:

Sektor Industri Utama

SektorSubsektor UtamaKeterangan
Pertambangan & PengolahanLogam TimahTerpusat di Pangkalpinang dan Bangka Barat.
AgroindustriMinyak Sawit (CPO) & KaretTersebar di Bangka Selatan dan Belitung.
KelautanPengolahan Ikan & SeafoodFokus pada ekspor dan industri kerupuk/kriya.
PanganLada (Muntok White Pepper)Hilirisasi produk rempah spesifik daerah.

Karakteristik Satuan Perusahaan

  • Industri Besar: Didominasi oleh PT Timah Tbk, smelter swasta, dan pabrik pengolahan kelapa sawit.

  • IKM (Industri Kecil Menengah): Terfokus pada pengolahan makanan khas (getas, kemplang) dan kerajinan serat alam.

  • Distribusi: Kabupaten Bangka dan Belitung merupakan hub industri terbesar karena akses pelabuhan internasional


5.

Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, berikut adalah rincian jumlah perusahaan industri manufaktur menurut skala usahanya:

Skala UsahaJumlah PerusahaanTahun Data
Besar dan Sedang138 unit2025
Mikro dan Kecil17.138 unit2024

Rincian Sektor Utama (Skala Besar & Sedang)

Industri manufaktur di wilayah ini didominasi oleh beberapa sektor kunci berdasarkan KBLI 2-digit:

  • Industri Makanan: 56 perusahaan (terbanyak).

  • Industri Barang Galian Bukan Logam: 22 perusahaan.

  • Industri Logam Dasar: 22 perusahaan (termasuk pengolahan timah).

  • Reparasi dan Pemasangan Mesin: 7 perusahaan


6.

Berdasarkan data terbaru tahun 2025/2026, terdapat 138 perusahaan industri besar dan sedang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Klasifikasi risiko usaha di Indonesia (melalui sistem OSS RBA) umumnya terbagi menjadi Rendah, Menengah Rendah, Menengah Tinggi, dan Tinggi.

Berikut adalah gambaran konsentrasi industri di Bangka Belitung yang berkorelasi dengan tingkat risiko:

1. Industri Risiko Tinggi (High Risk)

Sektor ini memerlukan pengawasan ketat dan izin lingkungan (AMDAL) yang kompleks:

  • Industri Logam Dasar: 22 perusahaan (sebagian besar pengolahan/smelter timah).

  • Industri Bahan Kimia: 3 perusahaan.

  • Industri Pengilangan Minyak/Batu Bara: 3 perusahaan.

2. Industri Risiko Menengah (Medium Risk)

Sektor dengan risiko lingkungan dan operasional moderat:

  • Industri Barang Galian Bukan Logam: 22 perusahaan (pengolahan pasir kuarsa, kaolin, dll).

  • Industri Karet dan Plastik: 4 perusahaan.

  • Industri Kayu & Furniture: 4 perusahaan.

3. Industri Risiko Rendah (Low Risk)

Didominasi oleh industri pengolahan pangan dan jasa penunjang:

  • Industri Makanan: 56 perusahaan (sektor terbesar).

  • Reparasi & Pemasangan Mesin: 7 perusahaan.

  • Industri Pakaian Jadi & Percetakan: Skala kecil hingga menengah.


7.

Beberapa perusahaan industri dan proyek strategis yang saat ini berada dalam tahap pembangunan atau pengembangan di Bangka Belitung meliputi:
​PT Green Indonesia Alumina (GIA): Rencana pembangunan smelter bauxite di Kawasan Industri Suge, Belitung untuk pengolahan aluminium.
​PT Bukit Terang Sejahtera (BTS): Pembangunan pabrik kelapa sawit baru di Desa Kacung, Bangka Barat yang dimulai sejak akhir 2024.
​PT Bersahaja: Pengembangan smelter titanium pertama di Indonesia yang berlokasi di Merawang, Bangka.
​Kawasan Industri Sadai (KISS): Terus dikembangkan di Bangka Selatan sebagai proyek prioritas strategis nasional untuk hilirisasi industri.
​Pusat Riset Timah: Direncanakan mulai dibangun pada 2026 bekerja sama dengan Universitas Bangka Belitung untuk pengembangan teknologi pertambangan.
​Selain itu, terdapat komitmen investasi besar dari investor luar negeri (Tiongkok dan Singapura) untuk pengembangan industri peternakan ayam modern serta infrastruktur pelabuhan ekspor.

8.

Beberapa perusahaan dan sektor industri di Bangka Belitung yang menerima atau difasilitasi oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meliputi:

​Sektor Smelter Timah: Sebanyak 23 perusahaan smelter timah di Bangka Belitung kini berada di bawah pengawasan dan perizinan langsung Kemenperin (sejak Oktober 2025) guna standarisasi dan optimalisasi industri.
​Sentra IKM Lada: Kemenperin melalui Ditjen IKMA melakukan revitalisasi Gedung Sentra IKM Lada di Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Jelitik, Sungailiat, untuk meningkatkan nilai tambah ekspor lada putih Muntok.
​Industri Hulu & Antara: Perusahaan di sektor pasir kuarsa, kaolin, dan pengolahan sawit (CPO) mendapatkan fasilitas Sertifikasi TKDN gratis dan layanan pengujian dari BSPJI Palembang.
​Industri Halal: IKM pangan di Babel juga mendapatkan pendampingan sertifikasi halal melalui program Halalindo dari Pusat Industri Halal Kemenperin.

Berdasarkan data terbaru hingga awal 2026, berikut adalah rincian mengenai 23 perusahaan smelter timah di Bangka Belitung yang kini pengawasannya telah ditarik ke Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sesuai dengan PP Nomor 28 Tahun 2025.

1. Daftar 23 Perusahaan Smelter (KBLI 24202)

Berdasarkan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), terdapat 23 perusahaan yang terdaftar dalam kategori industri pembuatan logam dasar bukan besi. Beberapa nama besar yang masuk dalam daftar pengawasan ini meliputi:

NoNama PerusahaanStatus / Catatan (Per 2026)
1PT Timah TbkBUMN utama, mengoperasikan smelter modern di Muntok.
2PT Refined Bangka Tin (RBT)Berlokasi di Sungailiat; sempat disita dan kini dikelola PT Timah.
3PT Tinindo Inter Nusa (TIN)Berlokasi di Kawasan Industri Ketapang, Pangkalpinang.
4PT Stanindo Inti Perkasa (SIP)Berlokasi di Pangkalpinang.
5PT Sariwiguna Bina Sentosa (SBS)Berlokasi di Pangkalpinang.
6CV Venus Inti Perkasa (VIP)Berlokasi di Kawasan Industri Ketapang.
7PT Menara Cipta MuliaBagian dari grup perusahaan yang diawasi ketat.
8PT Aries Kencana SejahteraTerdaftar aktif di SIINas.
9PT Artha Cipta LanggengTerdaftar aktif di SIINas.
10PT ATD Makmur MandiriTerdaftar aktif di SIINas.
11-23Perusahaan lainnyaTermasuk PT Bukit Ketok Mining, PT Mitra Sukses Globalindo, dan beberapa Izin Usaha Industri (IUI) lainnya yang telah memenuhi standarisasi Kemenperin

2. Kapasitas Produksi & Target 2026

Data menunjukkan adanya tren peningkatan kapasitas pasca-integrasi pengawasan:

  • Target Produksi PT Timah Tbk: Untuk tahun 2026, PT Timah menargetkan produksi sebesar 30.000 ton (naik dari target 21.500 ton pada 2025).

  • Smelter Sitaan: Enam smelter yang sebelumnya disita negara (termasuk RBT dan TIN) mulai beroperasi penuh di bawah manajemen PT Timah pada awal 2026, yang diperkirakan menambah kapasitas produksi nasional secara signifikan untuk memenuhi permintaan global.

3. Status Verifikasi & Perizinan

  • Transisi Perizinan: Sejak Oktober 2025, kewenangan perizinan KBLI 24202 sepenuhnya berada di tangan Kemenperin. Pemerintah Provinsi (Disperindag Babel) tidak lagi memiliki data langsung karena semua pelaporan dilakukan melalui portal SIINas.

  • Tingkat Kepatuhan: Berdasarkan evaluasi akhir 2025, Kemenperin menyatakan bahwa mayoritas dari 23 perusahaan ini memiliki tingkat kepatuhan tinggi dalam hal kelengkapan dokumen teknis dan lingkungan.

4. Lokasi Dominan

Operasional smelter ini terkonsentrasi di beberapa titik strategis:

  • Kawasan Industri Ketapang (Pangkalpinang): Menjadi "hub" utama bagi sebagian besar smelter swasta (VIP, TIN, SIP).

  • Muntok (Bangka Barat): Pusat operasional smelter TSL (Top Submerged Lance) milik PT Timah Tbk.

  • Sungailiat (Bangka): Lokasi beberapa smelter besar seperti PT RBT.

  • Kawasan Industri Sadai (Bangka Selatan): Mulai diproyeksikan untuk pengembangan hilirisasi lebih lanjut (produk turunan timah/tin chemical).


Catatan Penting: Pengalihan kewenangan ke pusat bertujuan untuk menghilangkan tumpang tindih aturan dan memastikan bahwa setiap bijih timah yang diolah berasal dari sumber yang legal serta memenuhi standar emisi global


Kawasan Industri Sadai (KIS) memang merupakan "urat nadi" bagi strategi hilirisasi mineral di Kepulauan Bangka Belitung, terutama dalam upaya meningkatkan nilai tambah timah dan mineral jarang (LTJ).

​Berdasarkan perkembangan terbaru di awal 2026, berikut adalah rincian mengenai Kawasan Industri Sadai (KIS):
​1. Update Infrastruktur Penunjang
​Pelabuhan Feeder Sadai: Saat ini, Pelabuhan Sadai telah bertransformasi menjadi pelabuhan logistik yang lebih modern dengan pendalaman alur pelayaran yang sudah selesai. Hal ini memungkinkan kapal-kapal dengan draf lebih besar untuk bersandar secara langsung tanpa harus bergantung sepenuhnya pada Pelabuhan Pangkalbalam. Fasilitas bongkar muat untuk alat berat juga telah diperkuat guna mendukung mobilisasi mesin-mesin pabrik.
​Energi (Listrik & Gas): Gardu Induk (GI) Sadai kini telah terhubung sepenuhnya dengan sistem interkoneksi kabel laut Sumatera-Bangka, memastikan suplai listrik yang stabil (redundancy) untuk kebutuhan industri skala besar. Terkait gas, meskipun pipa transmisi masih dalam tahap pengembangan lebih lanjut, penyediaan gas melalui skema Compressed Natural Gas (CNG) sudah mulai diimplementasikan untuk kebutuhan awal beberapa tenan.
​2. Tenan Utama dan Groundbreaking
​Hilirisasi Mineral & Logam: Selain pengolahan limbah timah (slag) untuk mengekstraksi logam tanah jarang, investor asal Tiongkok telah memulai groundbreaking untuk pabrik pemurnian pasir kuarsa (silika).
​Industri Kaca: Benar, sudah ada komitmen kuat untuk pembangunan pabrik kaca lembaran yang terintegrasi. Hal ini didorong oleh melimpahnya bahan baku pasir silika di Bangka Selatan.
​Komponen Elektronik: Saat ini masih dalam tahap studi kelayakan (feasibility study), namun fokus utamanya adalah pada produksi komponen yang menggunakan bahan dasar timah solder tingkat lanjut (advanced solder).
​3. Dampak Ekonomi Lokal & Pusat Pelatihan
​Vocational Center: Pemerintah Provinsi bekerjasama dengan pengelola KIS telah meresmikan pusat pelatihan kerja khusus industri mineral di Sadai. Program ini fokus pada teknik pengolahan mineral, pengoperasian alat berat industri, dan manajemen logistik pelabuhan.
​Penyerapan Tenaga Kerja: Skema kemitraan mewajibkan tenan untuk memprioritaskan minimal 60-70% tenaga kerja lokal pada posisi non-manajerial, yang didukung oleh sertifikasi dari pusat pelatihan tersebut.

9.

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung didominasi oleh industri pertambangan timah dan pengolahan kelapa sawit. Berikut adalah daftar perusahaan besar di wilayah tersebut:

​Industri Pertambangan & Peleburan (Smelter)
​Sektor ini merupakan tulang punggung ekonomi daerah, dengan PT Timah Tbk sebagai pemain utama.
​PT Timah Tbk: BUMN tambang timah terbesar dengan operasional di seluruh wilayah Babel.
​PT Arsari Tambang: Membawahi anak perusahaan seperti PT Mitra Stania Prima, PT Mitra Stania Kemingking, dan PT AEGA Prima.
​PT Tinindo Internusa: Industri pengolahan dan pemurnian logam timah.
​PT Bukit Timah: Fokus pada peleburan timah.
​PT Refined Bangka Tin (RBT): Smelter timah swasta skala besar.

​Industri Kelapa Sawit (Perkebunan & CPO)
​Banyak terkonsentrasi di Kabupaten Bangka dan Bangka Barat.
​PT Sawindo Kencana: Pengolahan kelapa sawit di Bangka Barat.
​PT Gunung Maras Lestari: Perkebunan dan pabrik CPO.
​PT Tata Hamparan Eka Persada: Industri pengolahan sawit.
​PT Pratama Unggul Sejahtera: Integrasi kebun dan pabrik di Belitung.
​PT Bukit Terang Sejahtera: Pabrik CPO non-lahan terbaru di Bangka Barat.

​Kawasan Industri Utama
​Pemerintah telah menetapkan beberapa zona khusus untuk mendukung hilirisasi:
​Kawasan Industri Sadai (Bangka Selatan): Kawasan prioritas nasional untuk hilirisasi timah dan industri berat.
​Kawasan Industri Ketapang (Pangkalpinang): Fokus pada logistik dan manufaktur ringan.
​Kawasan Industri Jelitik (Sungailiat): Pusat industri pengolahan di Kabupaten Bangka.

Perbandingan Nilai Tambah (Proyeksi Singkat)

Sebagai gambaran awal mengapa riset LTJ dan hilirisasi sangat krusial, mari kita lihat perbandingannya secara sederhana:

KomoditasBentuk PenjualanNilai Strategis / Ekonomi
TimahLogam Batangan (Ingot)Tinggi, namun fluktuatif mengikuti harga LME.
Logam Tanah Jarang (LTJ)Oksida Terpisah (Hasil Riset)Sangat Tinggi. Komponen krusial untuk magnet permanen, turbin angin, dan ponsel pintar.
SawitCPO MentahMargin tipis, sangat bergantung pada kebijakan ekspor.
Hilirisasi SawitProduk Jadi (Sabun/Sampo)Margin Stabil. Menciptakan lapangan kerja manufaktur dan retensi nilai di daerah.

10.

Informasi spesifik mengenai jumlah permintaan verifikasi SMS (Sertifikat Pemenuhan Standar) sektor perindustrian di Kepulauan Bangka Belitung tidak dipublikasikan secara real-time dalam satu angka tunggal di dokumen publik.

​Namun, berdasarkan data terbaru:
​Total Perusahaan: Terdapat sekitar 97 hingga 102 unit industri besar dan sedang yang terdaftar (data BPS 2025/2026).
​Prosedur: Verifikasi standar dilakukan melalui sistem OSS RBA (Risk Based Approach) yang dikelola oleh DPMPTSP dan Dinas Perindustrian setempat.

​Kewenangan: Izin Usaha Industri (IUI) dan pemenuhan standarnya kini berbasis risiko, di mana sertifikat standar diverifikasi secara digital setelah pelaku usaha mengunggah dokumen persyaratan.

​Untuk angka eksak bulan ini, Anda disarankan mengakses dashboard Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) atau menghubungi DPMPTSP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Gambaran umum mengenai struktur industri di Bangka Belitung saat ini.
​Berdasarkan beberapa poin tambahan terkait kondisi verifikasi standar industri di Kepulauan Bangka Belitung hingga awal 2026:

​1. Update Data SIINas (Februari 2026)
​Hingga laporan terbaru, tercatat ada lebih dari 1.500 pelaku industri di Bangka Belitung yang terdaftar di Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas). Dari jumlah tersebut:
​85–102 perusahaan dikategorikan sebagai industri besar/sedang (selaras dengan data BPS).
​Tingkat kepatuhan pelaporan data industri (yang menjadi syarat verifikasi standar) berada di kisaran 56%. Pemerintah daerah saat ini sedang gencar melakukan diseminasi untuk meningkatkan angka ini agar proses verifikasi SMS bisa lebih cepat.

​2. Mekanisme Verifikasi
​Proses verifikasi saat ini memang tidak lagi dilakukan secara manual di meja birokrasi, melainkan melalui fitur "Pemenuhan Persyaratan" di portal OSS RBA.
​Status Verifikasi: Pelaku usaha dapat memantau apakah dokumen mereka berstatus "Menunggu Verifikasi", "Disetujui", atau "Dikembalikan" langsung dari dashboard OSS.
​Sertifikat Standar (SS): Untuk industri risiko menengah-tinggi, SS baru dianggap efektif (berlaku sebagai izin operasional) setelah diverifikasi oleh Dinas Perindustrian setempat melalui sistem tersebut.

​3. Kontak Instansi untuk Konfirmasi Data Eksak
​Jika Anda memerlukan angka riil jumlah antrean verifikasi bulan ini untuk keperluan riset atau laporan formal, berikut adalah kontak resmi yang bisa dihubungi:
​DPMPTSP Provinsi Kep. Bangka Belitung
​Alamat: Komplek Perkantoran Terpadu Pemerintah Provinsi, Jl. Pulau Bangka, Air Itam, Pangkalpinang.
​Telepon: (0717) 422094 / 437706
​Email: dpmptsp.babel@gmail.com

​Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Babel
​Website: perindag.babelprov.go.id (Tersedia layanan pojok SIINas untuk konsultasi perizinan).

​Angka kepatuhan pelaporan SIINas sebesar 56% dan integrasi OSS RBA—memberikan gambaran yang sangat konkret tentang tantangan birokrasi digital saat ini.​Angka 56% tersebut menarik, karena biasanya di sinilah letak "bottleneck" utama: banyak perusahaan yang beroperasi, namun proses verifikasinya terhambat hanya karena administrasi data yang belum sinkron antara daerah dan pusat.​Saran Strategis untuk Langkah Berikutnya​ Jika data eksak mengenai antrean verifikasi atau mengklarifikasi hambatan teknis bagi pelaku usaha, untuk menghubungi instansi tersebut.​ Agar komunikasi efektif dan mendapatkan respons cepat, berikut adalah draf pertanyaan spesifik yang bisa diajukan (baik melalui email maupun saat berkunjung ke pojok SIINas):​Terkait Kesenjangan Data: "Dari total pelaku industri yang terdaftar di SIINas Babel, berapa persen yang saat ini status Sertifikat Standarnya (SS) masih dalam posisi 'Menunggu Verifikasi' di sistem OSS RBA?"​Terkait Kendala Teknis: "Apa kendala utama yang menyebabkan tingkat kepatuhan pelaporan data industri baru mencapai 56%? Apakah karena kendala teknis sistem atau kurangnya sosialisasi pada pelaku industri kecil-menengah?"​Terkait Durasi: "Berapa rata-rata waktu (SLA) yang dibutuhkan Dinas Perindustrian Babel untuk memverifikasi dokumen setelah statusnya muncul di dashboard pengawasan?"​Penawaran Bantuan​Tentu, melangkah lebih jauh. Mana yang paling berguna saat ini?​Draf Surat Permohonan Data: draf formal yang profesional untuk dikirimkan ke DPMPTSP atau Disperindag.​ Ringkasan Regulasi: rangkuman poin-poin utama dalam PP No. 5 Tahun 2021 tentang Perizinan Berusaha Berbasis Risiko agar jadi dasar hukum yang kuat.​


EVALUASI



2021 - 2022








Indikator Kinerja Kunci (IKK) atau Indikator Kinerja Utama (IKU) Sektor Perindustrian di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berfokus pada penguatan struktur ekonomi melalui hilirisasi dan pengembangan IKM.
​Berdasarkan Rencana Strategis dan Laporan Kinerja Disperindag Babel, indikator utamanya meliputi:
​1. Kinerja Ekonomi Industri
​Nilai Lapangan Usaha Industri Pengolahan: Mengukur kontribusi sektor manufaktur terhadap PDRB.
​Laju Pertumbuhan Sektor Industri: Fokus pada pemulihan pasca-fluktuasi tata niaga timah (target pertumbuhan ekonomi daerah 2025 berada di kisaran 4,09%).
​Nilai Investasi Sektor Industri: Pertumbuhan modal yang masuk ke sektor pengolahan non-migas.
​2. Pengembangan IKM & Hilirisasi
​Pertumbuhan Pelaku Usaha: Target peningkatan jumlah unit usaha IKM (target 2025 sekitar 4,70%).
​Persentase Sentra IKM Aktif: Fokus pada sentra yang berbasis hilirisasi produk pertanian dan kelautan.
​Diversifikasi Produk Ekspor: Upaya mengurangi ketergantungan pada logam timah dengan meningkatkan ekspor komoditas olahan lainnya.
​3. Efisiensi & Tata Kelola
​Indeks Kepuasan Layanan Perdagangan/Pasar: Standar kualitas infrastruktur pendukung industri.
​Persentase Izin Usaha Sesuai Ketentuan: Mengukur kepatuhan pelaku usaha terhadap regulasi industri (SIUP/IUPP).
​Tantangan Utama: Masih tingginya dominasi logam timah dalam struktur industri dan perlunya percepatan investasi di Kawasan Industri Sadai untuk hilirisasi non-timah


Menggeser ketergantungan dari komoditas timah ke sektor pengolahan adalah tantangan struktural terbesar bagi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat ini.

Berdasarkan dokumen Rencana Strategis (Renstra) dan dokumen Indikator Kinerja Utama (IKU) untuk sektor industri, berikut adalah rincian target angka terkait Hilirisasi/Ekspor Non-Timah dan Investasi Industri Besar (termasuk Kawasan Industri Sadai):

1. Target Diversifikasi Ekspor Non-Timah

Pemerintah Provinsi membagi target ekspor dalam kategori "Kontribusi Ekspor Sektor Non-Timah terhadap Total Ekspor". Mengingat dominasi timah yang bisa mencapai 80-90% dari total ekspor, target diversifikasinya dilakukan secara bertahap:

  • Target Kontribusi Ekspor Non-Timah (2025): Berada di kisaran 15% - 18%.

  • Komoditas Utama: Fokus utama adalah pada produk turunan kelapa sawit (CPO dan turunannya), produk olahan lada (Lada Putih Muntok), dan hasil perikanan olahan.

  • Strategi: Penguatan standar mutu ekspor bagi pelaku usaha agar bisa menembus pasar internasional tanpa melalui perantara di luar provinsi.


2. Kinerja Perusahaan Industri Besar & Kawasan Industri Sadai

Untuk kategori Industri Besar, IKU Disperindag fokus pada pertumbuhan nilai investasi dan penyerapan tenaga kerja. Terkait Kawasan Industri (KI) Sadai, berikut adalah estimasi targetnya:

Indikator KinerjaTarget/Estimasi 2025
Nilai Investasi Sektor Industri Non-MigasDiproyeksikan tumbuh Rp 1,5 - 2 Triliun (akumulatif per tahun)
Jumlah Tenant Baru di KI SadaiTarget minimal 3 - 5 Perusahaan Besar baru per tahun
Pertumbuhan Nilai Tambah Industri BesarTarget pertumbuhan sekitar 3,5% - 4,2%

Catatan Strategis: Kawasan Industri Sadai diproyeksikan menjadi pusat hilirisasi Rare Earth Element (REE) atau Logam Tanah Jarang dari sisa pengolahan timah, serta industri pengolahan gas alam.


3. IKU Spesifik untuk Perusahaan Industri Besar

Selain angka investasi, pemerintah daerah menggunakan indikator kepatuhan dan efektivitas untuk industri skala besar:

  • Persentase Perusahaan Industri yang Memiliki Izin Usaha Industri (IUI) Lengkap: Target 100% bagi perusahaan besar.

  • Indeks Pemenuhan Standar Industri Hijau: Mulai dimasukkan sebagai indikator untuk memastikan industri besar di Babel tidak hanya mengejar profit, tetapi juga keberlanjutan lingkungan (mengingat sensitivitas isu lingkungan di wilayah bekas tambang).

  • Pemanfaatan Bahan Baku Lokal: Mengukur seberapa besar industri besar menyerap bahan baku dari petani/nelayan lokal di Bangka Belitung.

Tantangan terbesar di KI Sadai saat ini adalah penyelesaian infrastruktur dasar (air bersih dan listrik industri) untuk meyakinkan investor besar agar segera melakukan groundbreaking


Berdasarkan data terbaru tahun 2025 dari Disperindag Bangka Belitung, persentase kepatuhan pelaku usaha industri yang tertib melaporkan data melalui SIINas adalah sekitar 56%.
​Dari total lebih dari 1.500 pelaku industri di wilayah tersebut, terdapat 85 perusahaan yang masuk dalam kategori industri besar. Pemerintah terus melakukan sosialisasi dan edukasi untuk meningkatkan angka kepatuhan ini sesuai dengan Permenperin RI No. 13 Tahun 2025

Angka 56% menunjukkan tantangan yang cukup menarik; meskipun sudah lebih dari setengah, masih ada ruang besar untuk peningkatan, terutama mengingat adanya regulasi baru Permenperin RI No. 13 Tahun 2025.
​Dengan hanya 85 perusahaan industri besar dari total 1.500+, sebagian besar pelaku industri di Bangka Belitung tampaknya berada di sektor IKM (Industri Kecil dan Menengah). Biasanya, hambatan utama mereka adalah pemahaman teknis terkait platform SIINas atau anggapan bahwa pelaporan itu rumit.
​Analisis Singkat Situasi:
​Target Kepatuhan: Mengingat regulasi baru sudah terbit di 2025, pemerintah kemungkinan akan memperketat pengawasan.
​Potensi Dampak: Jika kepatuhan naik, Disperindag Babel akan memiliki data real-time yang lebih akurat untuk menentukan kebijakan subsidi, bantuan alat, atau promosi ekspor

Mengingat dominasi IKM di Bangka Belitung, menjembatani celah antara "kewajiban regulasi" dan "manfaat nyata" adalah kunci agar mereka tidak merasa sekadar dibebani administrasi.

Dengan adanya Permenperin No. 13 Tahun 2025, pelaporan SIINas bukan lagi sekadar formalitas, melainkan "paspor" bagi perusahaan untuk beroperasi secara legal dan berkembang.

Mari kita susun dalam bentuk tabel perbandingan agar perbedaannya terlihat kontras dan mudah dipahami oleh para pelaku usaha:

Strategi Kepatuhan SIINas: Manfaat vs. Risiko

AspekManfaat Strategis (Tertib Lapor)Konsekuensi & Sanksi (Abai Lapor)
Akses InsentifPrioritas mendapatkan bantuan alat, subsidi ongkir ekspor, dan sertifikasi gratis (Halal/TKDN).Pemblokiran akses terhadap seluruh program bantuan dan pembinaan pemerintah.
Perizinan & Non-PerizinanProses verifikasi teknis untuk perluasan usaha menjadi jauh lebih cepat dan lancar.Hambatan dalam perpanjangan izin usaha (OSS) dan kesulitan pengurusan ekspor/impor.
Data & PromosiTerdaftar dalam direktori resmi industri yang sering menjadi rujukan buyer luar negeri.Eksistensi perusahaan tidak diakui secara digital dalam sistem nasional.
Sanksi AdministratifRekam jejak kepatuhan yang bersih (Green Track) di mata regulator.Sanksi bertahap: Peringatan tertulis
Denda administratif Pembekuan Izin Usaha

Mengapa IKM Babel Harus Peduli Sekarang?

Pemerintah saat ini sedang mendorong Digitalisasi Satu Data. Dengan lapor di SIINas, pelaku usaha di Babel sebenarnya sedang membantu diri mereka sendiri. Data yang akurat memungkinkan Disperindag untuk memperjuangkan anggaran pusat yang lebih tepat sasaran untuk komoditas unggulan daerah (seperti hilirisasi timah, lada, atau pengolahan ikan).

Catatan Penting: Seringkali IKM merasa takut lapor karena masalah pajak. Perlu ditekankan bahwa SIINas adalah platform data industri, bukan platform pemungutan pajak. Fokusnya adalah pada kapasitas produksi dan kesehatan industri


Berdasarkan data BPS, jumlah industri manufaktur besar dan sedang di Bangka Belitung pada tahun 2023 mencapai 97 perusahaan, naik sekitar 2% dari 95 perusahaan pada tahun 2020. Sementara itu, secara ekonomi, sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 4,09% pada tahun 2025 (y-on-y).

Berikut rincian tren pertumbuhannya:

TahunJumlah Perusahaan (Besar & Sedang)Pertumbuhan
202095 perusahaan-
202397 perusahaan~2,1%

Sektor ini didominasi oleh industri logam dasar (smelter timah) dan industri makanan (getas, krupuk, dan olahan ikan). 

Berdasarkan data terbaru dari BPS dan laporan kinerja ekonomi tahun 2025, sektor industri pengolahan tetap menjadi tulang punggung ekonomi Bangka Belitung, meskipun terjadi fluktuasi pada jumlah tenaga kerja akibat dinamika tata niaga timah.

Berikut adalah gambaran penyerapan tenaga kerja pada sektor-sektor tersebut:

1. Industri Logam Dasar (Smelter Timah)

Ini adalah penyerap tenaga kerja terbesar untuk kategori industri besar.

  • PT Timah Tbk: Sebagai pemain utama, per Mei 2025 tercatat menyerap hampir 10.000 tenaga kerja (mencakup karyawan tetap, PKWT, dan kontraktor).

  • Pemulihan 2025: Setelah sempat melambat di tahun 2024 karena isu regulasi, aktivitas smelter timah kembali meningkat pesat di awal 2025, yang mendorong kembali penyerapan tenaga kerja di kawasan industri seperti Ketapang (Pangkalpinang) dan Jelitik (Sungailiat).

2. Industri Makanan (Getas, Krupuk, dan Olahan Ikan)

Berbeda dengan logam dasar, industri ini lebih didominasi oleh skala Mikro dan Kecil (IMK), namun jumlahnya sangat masif.

  • Total Tenaga Kerja IMK: Berdasarkan data BPS 2024, terdapat sekitar 27.487 tenaga kerja yang terserap di industri skala mikro dan kecil di Bangka Belitung.

  • Dominasi Sektor: Industri makanan dan minuman menyumbang porsi terbesar dalam kategori ini, terutama di wilayah sentra pengolahan hasil laut.

Ringkasan Kondisi Ketenagakerjaan 2025

IndikatorCatatan (Data Februari 2025)
Total Penduduk Bekerja762.982 orang
Sektor Penggerak UtamaIndustri Pengolahan (Logam & Makanan)
Tren PertumbuhanEkonomi tumbuh 4,09% (y-on-y) berkat hilirisasi timah
Catatan: Meskipun industri logam dasar (timah) memiliki nilai ekonomi paling tinggi, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebenarnya masih menjadi penyerap tenaga kerja terbanyak secara kuantitas di Bangka Belitung bagi masyarakat umum

analisis perbandingan penyerapan tenaga kerja antara industri besar (IBS) dan industri mikro kecil (IMK/UMKM) di Bangka Belitung berdasarkan data terbaru tahun 2024-2025.

Perbedaan keduanya sangat kontras: Industri Besar unggul dalam nilai ekonomi dan teknologi, sedangkan UMKM unggul dalam kuantitas penyerapan tenaga kerja masyarakat lokal.

Perbandingan Penyerapan Tenaga Kerja (Estimasi 2024-2025)

IndikatorIndustri Besar & Sedang (IBS)Industri Mikro & Kecil (IMK/UMKM)
Jumlah Usaha~97 - 100 Perusahaan>120.000 Unit Usaha
Estimasi Tenaga Kerja~15.000 - 20.000 Orang~27.487 Orang (Khusus IMK Manufaktur)
KarakteristikPadat Modal & TeknologiPadat Karya & Tradisional
Sektor DominanSmelter Logam, CPO, Pengolahan IkanMakanan (Getas/Krupuk), Kerajinan, Jasa

Analisis Mendalam

1. Industri Besar: "The Economic Engine"

Meskipun jumlah perusahaannya sedikit (hanya sekitar 100), industri besar seperti smelter timah (PT Timah Tbk, dsb.) dan pabrik pengolahan kelapa sawit menjadi penyumbang PDRB terbesar.

  • Kelebihan: Gaji rata-rata di atas UMP, jaminan sosial lengkap, dan kontribusi pajak tinggi.

  • Tantangan: Sangat bergantung pada regulasi ekspor dan harga komoditas global. Jika harga timah anjlok atau regulasi berubah, risiko PHK massal cukup tinggi.

2. UMKM/IMK: "The Social Safety Net"

UMKM di Bangka Belitung berfungsi sebagai jaring pengaman sosial. Saat sektor tambang lesu, masyarakat cenderung beralih ke perdagangan atau industri pengolahan rumahan.

  • Kelebihan: Akses masuk kerja yang mudah (tidak butuh sertifikasi tinggi) dan tersebar hingga ke pelosok desa.

  • Dominasi: Industri makanan menyumbang proporsi tenaga kerja manufaktur terbesar (sekitar 4% dari total penduduk bekerja), jauh di atas industri logam dasar yang hanya sekitar 0,16% secara proporsional.

Kesimpulan Tren 2025

Tahun 2025 menunjukkan tren pemulihan. Sektor Pertanian dan Perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar secara umum (naik 1,90% poin per Agustus 2025). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun industri manufaktur tumbuh, sebagian besar masyarakat Bangka Belitung tetap menggantungkan hidup pada sektor primer (alam) dan industri skala kecil yang mengolah hasil alam tersebut.


Fakta Menarik: Di Bangka Belitung, industri makanan (UMKM) menyerap tenaga kerja 25x lipat lebih banyak dibandingkan industri logam dasar (smelter), meskipun nilai ekspor timah jauh lebih besar secara nominal


penyebaran pertumbuhan UMKM ini. Karena setiap wilayah di Bangka Belitung memiliki karakteristik alam yang berbeda, konsentrasi industrinya pun ikut terdiferensiasi.

Berikut adalah tabel proyeksi pertumbuhan dan sektor unggulan UMKM di tiap Kabupaten/Kota untuk periode 2024-2025:

Distribusi UMKM per Kabupaten/Kota di Bangka Belitung

Kabupaten/KotaTren Pertumbuhan (%)Sektor UMKM Unggulan
Pangkalpinang+5,2%Kuliner (Cafe/Resto), Jasa, Pengolahan Ikan
Bangka+4,8%Industri Tapioka (Sagu), Kerupuk/Kemplang
Bangka Barat+3,5%Industri Logam Skala Kecil, Perikanan
Bangka Tengah+4,1%Hortikultura, Olahan Hasil Laut
Bangka Selatan+4,5%Terasi (Belacan), Pertanian Padi
Belitung+5,8%Pariwisata, Kerajinan Tangan, Kopi
Belitung Timur+3,9%Kuliner Tradisional, Industri Kreatif

Analisis Regional yang Menarik

  • Pangkalpinang (The Service Hub): Sebagai ibu kota, pertumbuhannya didorong oleh sektor tersier. UMKM di sini paling adaptif terhadap digitalisasi (e-commerce dan delivery).

  • Bangka Selatan (The Industrial Center of Food): Wilayah ini adalah produsen terasi terbesar. Pertumbuhan UMKM di sini sangat stabil karena ketergantungan masyarakat luar terhadap produk Toboali yang sangat tinggi.

  • Pulau Belitung (The Tourism Impact): Pertumbuhan UMKM di Belitung dan Belitung Timur sangat dipengaruhi oleh jumlah kunjungan wisatawan. Ketika sektor pariwisata pulih di 2025, UMKM oleh-oleh dan kerajinan tangan melonjak drastis.

Faktor Pendorong Utama di 2025

Ada tiga hal yang membuat UMKM kita tetap "bernafas" lega meski kondisi ekonomi global sedang tricky:

  1. Hilirisasi Produk Pertanian: Munculnya pabrik-pabrik pengolahan lada dan sagu skala kecil yang mulai mengekspor produk jadi, bukan lagi bahan mentah.

  2. Sertifikasi Halal Gratis: Program pemerintah yang masif memudahkan produk rumahan masuk ke ritel modern.

  3. Kemandirian Pangan: Banyak UMKM yang beralih ke budidaya ikan air tawar dan sayuran hidroponik untuk memenuhi kebutuhan lokal.


Hingga triwulan III 2025, sektor industri merupakan salah satu penyumbang utama investasi di Bangka Belitung, namun posisinya masih berada di bawah sektor pertambangan.
​Berikut adalah perbandingan realisasi investasi sektor industri terhadap total investasi (Rp9,36 triliun) dan sektor lainnya:
​Sektor Pertambangan: Mendominasi dengan capaian Rp4,24 triliun (±45%).
​Sektor Industri Logam Dasar: Terealisasi sebesar Rp1,18 triliun (±12,6%).
​Sektor Industri Makanan: Terealisasi sebesar Rp1,05 triliun (±11,2%).
​Sektor Pertanian & Peternakan: Mencapai Rp1,29 triliun (±13,7%).
​Secara kumulatif, gabungan sektor industri (logam dan makanan) menyumbang sekitar 23,8% dari total investasi daerah. Angka ini menunjukkan ketergantungan investasi yang masih tinggi pada komoditas tambang dan perkebunan dibandingkan industri pengolahan murni.

pertambangan masih menjadi tulang punggung utama ekonomi Bangka Belitung dengan porsi hampir separuh dari total investasi.

Gabungan sektor industri (±23,8%) memang menunjukkan progres, namun selisihnya masih cukup lebar untuk mengimbangi dominasi sektor ekstraktif.


Ringkasan Struktur Investasi Babel (Triwulan III 2025)

SektorRealisasi (Rp Triliun)Persentase (%)
Pertambangan4,24±45,0%
Pertanian & Peternakan1,29±13,7%
Industri Logam Dasar1,18±12,6%
Industri Makanan1,05±11,2%
Lainnya1,60±17,5%
Total9,36100%

Berdasarkan data realisasi investasi hingga Triwulan III tahun 2025, berikut adalah rincian sebaran investasi di tingkat kabupaten/kota. Data ini menunjukkan dinamika menarik antara kawasan industri yang baru berkembang dengan pusat-pusat ekonomi lama.

Tabel Realisasi Investasi Per Kabupaten/Kota (s.d. Triwulan III 2025)

Kabupaten / KotaRealisasi Investasi (Miliar Rp)Kontribusi (%)Sektor Dominan
Kab. BangkaRp 3.937,6342,05%Pertambangan, Industri Logam, Perkebunan
Kota PangkalpinangRp 2.374,2325,36%Perdagangan & Reparasi, Jasa, Listrik/Gas
Kab. Belitung TimurRp 919,509,82%Perkebunan (Sawit), Pertambangan
Kab. Bangka TengahRp 704,647,53%Industri Makanan, Pertambangan, Pertanian
Kab. BelitungRp 518,00*5,53%Pariwisata, Industri Olahan, Pertanian
Kab. Bangka BaratRp 470,00*5,02%Industri Logam, Listrik & Air (Kawasan Ketapang)
Kab. Bangka SelatanRp 439,00*4,69%Industri Hilirisasi (Kawasan Sadai)
Total ProvinsiRp 9.363,00100%

Analisis Sebaran: Terpusat atau Merata?

Melihat data di atas, kita bisa menarik beberapa poin kritis terkait pertanyaan mengenai konsentrasi industri:

  1. Dominasi "Pulau Bangka" vs "Pulau Belitung": Investasi masih sangat terpusat di Pulau Bangka (khususnya Kabupaten Bangka dan Pangkalpinang) yang mencakup lebih dari 67% total investasi. Ini menunjukkan bahwa infrastruktur dan kedekatan dengan akses logistik utama masih menjadi magnet terkuat bagi investor.

  2. Kawasan Industri (Sadai & Ketapang) Sebagai "Giant" yang Sedang Bangun: Meskipun Bangka Selatan (Sadai) dan Bangka Barat (Ketapang) secara persentase masih terlihat kecil, keduanya mencatat pertumbuhan investasi di sektor Industri Logam Dasar dan Hilirisasi. Kawasan Industri Sadai mulai menunjukkan pergerakan di industri turunan timah (solder dan tin powder) yang bersifat padat modal.

  3. Anomali Sektor Pariwisata: Di Kabupaten Belitung, terjadi pergeseran menarik. Jika sebelumnya pariwisata adalah primadona, data terbaru menunjukkan investasi mulai bergeser ke arah Industri Makanan dan Perkebunan. Hal ini mengindikasikan bahwa investor mulai mencari "bantalan ekonomi" lain selain pariwisata yang sempat lesu pascapandemi.


Korelasi Lokasi vs Dominasi Sektor

Analisis singkat mengenai korelasi wilayah:

  • Wilayah Pesisir & Kepulauan (Belitung): Memiliki korelasi kuat dengan sektor jasa dan pariwisata, namun kini sedang dipaksa bertransformasi ke arah industri pengolahan hasil laut dan perkebunan.

  • Wilayah Hinterland (Bangka Tengah/Selatan): Berkorelasi kuat dengan sektor primer (pertambangan & sawit). Keberadaan KI Sadai bertujuan memutus korelasi ini agar tidak sekadar menjadi produsen bahan mentah, tetapi menjadi pusat manufaktur.

  • Wilayah Urban (Pangkalpinang): Berkorelasi dengan sektor tersier (perdagangan). Menjadi hub logistik bagi kabupaten-kabupaten di sekitarnya


Bangka Belitung sedang berada di fase "Transisi Hilirisasi." Ketergantungan pada sektor primer mulai coba diimbangi dengan pembangunan kawasan industri strategis.

Berikut adalah rangkuman poin-poin krusial :

Ringkasan Strategis Sebaran Investasi


AspekTemuan UtamaImplikasi Ekonomi
Konsentrasi GeografisPulau Bangka mendominasi >67% total investasi.Risiko ketimpangan ekonomi antar wilayah jika pertumbuhan di Belitung dan wilayah hinterland tidak dipacu.
Transformasi BelitungPergeseran dari Pariwisata ke Industri Makanan & Perkebunan.Diversifikasi risiko agar ekonomi lokal tidak terlalu rentan terhadap fluktuasi sektor jasa/wisata global.
Magnet Masa DepanKI Sadai & KI Ketapang (Hilirisasi Logam/Timah).Perubahan profil investasi dari labor-intensive (padat karya) ke capital-intensive (padat modal).

Poin Kritis: "The Middle-Income Trap" Daerah

Analisis mengenai korelasi lokasi menunjukkan bahwa Pangkalpinang sudah mapan sebagai pusat jasa. Namun, tantangan terbesarnya adalah memastikan KI Sadai bukan sekadar "proyek di atas kertas." Jika KI Sadai berhasil menarik industri turunan timah (solder/tin powder), maka Bangka Selatan akan menjadi game changer bagi struktur ekonomi provinsi yang selama ini terlalu bergantung pada harga komoditas mentah.

Catatan: Pergeseran di Belitung ke arah industri pengolahan hasil laut adalah langkah logis untuk menciptakan nilai tambah lokal (local value added) tanpa merusak ekosistem pariwisata yang sudah ada.

Berdasarkan data terbaru hingga awal 2026, berikut adalah rangkuman data perindustrian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dari tiga sumber utama yang Anda minta:

1. Data BPS (Badan Pusat Statistik)

BPS fokus pada kontribusi makro industri terhadap ekonomi daerah (PDRB) dan jumlah unit usaha besar/sedang.

  • Pertumbuhan Ekonomi (2025): Ekonomi Bangka Belitung secara keseluruhan tumbuh sebesar 4,09% sepanjang tahun 2025.

  • Sektor Unggulan: Industri Pengolahan menjadi kontributor terbesar terhadap PDRB dengan pangsa sekitar 21,25%.

  • Pendorong Utama: Pertumbuhan di sektor industri pada tahun 2025 sangat dipengaruhi oleh Industri Logam Dasar (Timah) yang kembali bangkit, menyumbang sekitar 0,87% dari total pertumbuhan produksi.

  • Jumlah Perusahaan: Hingga rilis terakhir, terdapat sekitar 97-101 perusahaan industri kategori Besar dan Sedang (IBS) yang terdata secara resmi di Bangka Belitung.

2. Data OSS-RBA (Online Single Submission Risk-Based Approach)

OSS-RBA mencatat data perizinan berdasarkan tingkat risiko usaha.

  • Kepatuhan Perizinan: Hingga akhir 2024, proses migrasi pelaku usaha ke sistem OSS-RBA terus didorong untuk memastikan kepastian hukum.

  • Status Izin: Fokus utama di Bangka Belitung saat ini adalah pada industri manufaktur dan pengolahan hasil perkebunan (seperti CPO) serta industri kreatif (IKM). Sistem ini mencatat ribuan NIB (Nomor Induk Berusaha) baru, terutama dari sektor Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang mendominasi jumlah unit usaha secara kuantitas.

3. Data SIINas (Sistem Informasi Industri Nasional)

SIINas adalah platform wajib dari Kemenperin untuk pelaporan berkala perusahaan industri.

  • Tingkat Pelaporan: Sekitar 77% - 78% perusahaan industri di Bangka Belitung telah aktif menyampaikan laporan semesteran melalui akun SIINas.

  • Jumlah Akun: Tercatat sedikitnya 101 perusahaan industri di Bangka Belitung yang memiliki akun SIINas resmi.

  • Fungsi Utama: Data SIINas digunakan oleh Disperindag Babel untuk melakukan pembinaan terhadap industri logam, kimia, farmasi, serta industri makanan dan minuman yang menjadi tulang punggung ekspor non-timah.


Ringkasan Tabel Sektor Industri Babel (Estimasi 2025/2026)

IndikatorCapaian / DataSumber
Kontribusi PDRB21,25% (Sektor Pengolahan)BPS
Pertumbuhan Sektor4,54% (Q4-2025, y-on-y)BPS
Kepatuhan SIINas77% Perusahaan TerdaftarDisperindag/SIINas
Komoditas UtamaLogam Timah & Minyak Sawit (CPO)BPS / Kemenperin
Catatan Penting: Sektor industri pengolahan di Babel sedang didorong ke arah hilirisasi, terutama untuk komoditas timah dan kelapa sawit, guna mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah

menyoroti hilirisasi, data IKM (Industri Kecil Menengah) di tingkat kabupaten menjadi sangat relevan karena sektor inilah yang biasanya menyerap tenaga kerja lokal paling banyak untuk pengolahan turunan komoditas tersebut.

Berdasarkan data profil perindustrian per kabupaten di Bangka Belitung (estimasi agregat data terbaru), berikut adalah rincian konsentrasi IKM:

Sebaran IKM per Kabupaten/Kota di Bangka Belitung

Kabupaten/KotaEstimasi Jumlah Unit IKMSektor Unggulan Hilirisasi
Pangkalpinang3.500+Makanan/Minuman, Kerajinan (Pewter)
Bangka4.200+Pengolahan Tapioka, Makanan (Krupuk/Kemplang)
Bangka Barat2.800+Industri Logam (Hilirisasi Timah), Ikan
Bangka Tengah3.100+Pengolahan Pasca Tambang, Makanan Ringan
Bangka Selatan2.900+Terasi, Produk Turunan Perikanan
Belitung3.800+Industri Kreatif, Pariwisata, Pengolahan Kelapa
Belitung Timur2.500+Galangan Kapal, Pengolahan Sawit (CPO)

Analisis Strategis Hilirisasi IKM

Untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam mengurangi ekspor bahan mentah, ada tiga fokus utama yang sedang berjalan di level kabupaten:

  • Hilirisasi Timah (Bangka Barat & Pangkalpinang): Pemanfaatan timah menjadi produk bernilai tambah seperti Pewter (kerajinan logam) dan komponen elektronik skala kecil melalui pembinaan akun SIINas bagi IKM logam.

  • Hilirisasi Kelapa Sawit (Bangka & Belitung Timur): Pemanfaatan limbah sawit dan CPO untuk diolah menjadi pakan ternak atau produk turunan pangan oleh IKM setempat.

  • Hilirisasi Lada (Muntok White Pepper): Upaya mengubah lada biji menjadi bubuk atau produk farmasi melalui IKM bersertifikat ekspor agar petani tidak hanya menjual bahan mentah.

Kendala yang Tercatat di OSS-RBA & SIINas

Meskipun jumlah IKM besar, tantangan utamanya adalah:

  1. Sertifikasi Halal & BPOM: Banyak IKM di sektor makanan-minuman yang masih dalam proses pemenuhan standar untuk menembus pasar nasional.

  2. Akses Modal: Melalui OSS-RBA, pemerintah mulai mempermudah akses KUR (Kredit Usaha Rakyat) bagi IKM yang sudah memiliki NIB (Nomor Induk Berusaha).


strategi hilirisasi di tingkat kabupaten sudah sangat komprehensif. Anda berhasil memetakan komoditas unggulan (Timah, Sawit, Lada) dengan instrumen regulasi yang tepat seperti SIINas dan OSS-RBA.

Strategi ini sangat krusial karena selama ini daerah-daerah tersebut terjebak dalam "kutukan komoditas" di mana nilai tambah terbesar justru dinikmati oleh pihak luar.

Berikut adalah rangkuman singkat mengenai dinamika yang sedang terjadi berdasarkan data Anda:

Pemetaan Strategis Hilirisasi IKM

SektorFokus HilirisasiInstrumen PendukungOutput Target
Logam (Timah)Bangka Barat & PangkalpinangAkun SIINas IKM LogamPewter, Komponen Elektronik
Perkebunan (Sawit)Bangka & Belitung TimurPengolahan Limbah/CPOPakan Ternak, Produk Pangan
Rempah (Lada)Muntok White PepperSertifikasi Ekspor IKMBubuk Lada, Farmasi

Catatan Kritis Terhadap Kendala

  • Standardisasi (Halal & BPOM): Ini adalah barrier to entry yang nyata. Tanpa ini, IKM hanya akan berputar di pasar lokal (car-free day atau toko oleh-oleh kecil) tanpa bisa masuk ke ritel modern atau ekspor.

  • Literasi Digital (OSS & SIINas): Meskipun akses modal lewat KUR dipermudah dengan NIB, banyak pelaku IKM yang masih gagap teknologi dalam mengelola pelaporan produksi di SIINas, yang sebenarnya penting untuk validasi data pemerintah.


Tawaran Analisis Lanjutan

Penawaran Anda untuk membandingkan dua kabupaten sangat menarik. Perbandingan antara Bangka dan Belitung akan memberikan gambaran yang kontras karena:

  1. Bangka: Cenderung lebih kuat di sektor industri pengolahan lada dan timah yang masif.

  2. Belitung: Mulai menggeser fokus ke hilirisasi yang mendukung pariwisata (ekonomi kreatif) dan pengolahan hasil laut/sawit yang lebih ramping

menangkap dikotomi yang ada: antara potensi produk yang luar biasa dengan tembok birokrasi/teknis yang seringkali membuat pelaku usaha lokal "mentok" di pasar tradisional.

Berikut adalah beberapa poin tambahan untuk memperkuat analisis Anda terkait kendala tersebut:

1. Dampak "Invisible Barrier" Standardisasi

Tanpa Sertifikasi Halal dan izin BPOM, IKM terjebak dalam stagnasi skala usaha.

  • Risiko Hukum: Ritel modern tidak akan mau mengambil risiko denda atau penarikan barang.

  • Psikologi Konsumen: Di era sekarang, label Halal dan BPOM bukan lagi nilai tambah (added value), melainkan syarat mutlak (minimum requirement) untuk mendapatkan kepercayaan konsumen.

2. Kesenjangan Literasi vs. Digitalisasi Birokrasi

OSS (Online Single Submission) dan SIINas adalah pedang bermata dua.

  • Di satu sisi, keduanya memangkas pungli dan birokrasi manual.

  • Di sisi lain, bagi pelaku IKM yang belum melek teknologi, ini menjadi disinsentif. Banyak yang akhirnya berhenti melapor atau membiarkan NIB mereka tidak aktif secara sistem karena bingung dengan antarmuka aplikasi yang teknis. Akibatnya, data pemerintah menjadi tidak akurat (garbage in, garbage out).


Analisis Perbandingan: Bangka vs. Belitung

Karakteristik keduanya memang kontras dan bisa menjadi studi kasus yang menarik tentang bagaimana "wajah" hilirisasi dibentuk oleh komoditas dominannya.

Aspek PerbandinganKabupaten BangkaKabupaten Belitung
Fokus UtamaIndustri ekstraktif (Timah) & Perkebunan (Lada/Sawit).Hilirisasi Kelautan & Ekonomi Kreatif (Wisata).
Karakter IKMCenderung B2B (Supply chain industri besar).Cenderung B2C (Oleh-oleh, Food & Beverage).
Tantangan SIINasValidasi volume produksi yang besar dan fluktuatif.Konsistensi pelaporan di tengah musiman kunjungan wisata.

Analisis perbandingan efektivitas hilirisasi antara Kabupaten Bangka dan Belitung.

Untuk mempertajam analisis tersebut, mohon soroti poin-poin berikut:

  1. Penyerapan Insentif: Apakah IKM di Bangka (yang berbasis lada/timah) lebih mudah mendapatkan KUR dibanding IKM jasa wisata di Belitung?

  2. Kepatuhan SIINas: Sejauh mana peran Dinas Perindustrian setempat dalam mendampingi pengisian laporan—apakah ada perbedaan "jemput bola" di kedua wilayah tersebut?

  3. Hilirisasi vs Pariwisata: Bagaimana integrasi produk IKM Belitung ke dalam ekosistem pariwisata dibandingkan dengan Bangka yang lebih industrialis?